Kebahagiaan Membutuhkan Undangan; Kesengsaraan Mendobrak Masuk

Tim i-Humor's picture

Kita semua memasuki dunia dengan menangis. Tertawa adalah sesuatu yang harus kita pelajari.

Kita belajar tertawa melalui kontak dengan orang lain yang melakukannya, yang, kecuali Anda kembar, maka akan berbeda dengan urusan tentang "dilahirkan".

Dan, meskipun adalah mungkin untuk tertawa sendirian, seperti banyak hal lainnya, adalah lebih menyenangkan untuk melakukannya dengan orang-orang lain. Saya memikirkan, tentu saja, tentang miniatur golf.

Seperti yang menjadi keprihatinan teman jurnalis saya Gene Weingarten, yang memenangkan Pulitzer-Prize, pada saat kita belajar tertawa kita tergantung pada adanya orang lain di situ. Dia percaya itu semua berasal dari cilukbaa. (Ya, seperti banyak hal lainnya.)

Weingarten berpendapat bahwa "gelitikan cilukbaa sebelum gelitikan yang menggelikan" dan bahwa pengalaman pertama seorang anak tentang humor adalah kembali ke momen ketika bayi melihat seseorang menutup wajah dengan tangannya dan kemudian berteriak "cilukbaa!" dengan riang saat dia membuka tangan-tangan itu. Kombinasi yang bersemangat dari kejutan ditambah kontinuitas itu adalah intinya, kata Weingarten dari The Washington Post (yang saya maksud adalah cilukbaa, bukan tulisannya, Anda tahu).

Kita suka dikejutkan sedikit tetapi juga segera ingin melihat bahwa kekagetan kita itu lucu. Kita ingin diingatkan, dengan melepaskan tawa, bahwa kita menyukai yang tidak benar-benar hilang.

Ahli psikplogi menunjuk ini sebagai "objek permanen". Mungkin Anda menunjuknya dalam istilah yang kurang klinis, seperti saya, Anda memulai apa yang berubah menjadi sesi maraton cilukbaa dengan seorang anak kecil yang telah terpengaruh dengan terlalu banyak kesenangan, gula, atau espresso dengan cangkir yang lebih besar. Anak-anak akan bermain cilukbaa sampai lama sekali, atau sampai terasa lama sekali.

Akan tetapi, keinginan kita untuk kegembiraan seperti itu pun berkurang saat kita tumbuh besar. Dengan perlahan digantikan dengan hidup pekerjaan membosankan yang membuat pikiran tumpul. Bagaimana pun, ada taman kanak-kanak dengan mewarnai, mewarnai, dan mewarnai yang tidak ada akhirnya. Dan sekolah? Dengan ketakutan akan, yah, belajar? Dan duduk? Dan, menikmati makanan kecil sebelum belajar lagi? Tidak heran kita kehilangan kegembiraan.

(Anda kira saya bercanda? Tidak -- setidaknya, tidak seluruhnya. Meskipun saya adalah anak yang cukup ceria bahkan pinggiran buku catatan saya dipenuhi dengan tiang gantungan dan tali jeratnya. Dan, tidak selalu tentang permainan kata, juga.)

Rasa humor tidaklah berasal dari sistem kita begitu saja setelah kita melewati tahap cilukbaa; jika Anda pernah pulang-pergi kerja dengan naik bus Anda pasti mengetahui hal ini. Akan tetapi, rasa humor bisa dikembangkan sama seperti bakat atau ketrampilan lainnya. Seperti menyanyi sesuai nada atau membayar orang, bagaimanapun, beberapa orang tidak pernah menguasai seni.

Beberapa orang tidak menyadari bahwa tidak ada hal semacam itu dalam kehidupan biasa.

Mereka percaya bahwa diri mereka dipojokkan di tempat kesengsaraan, frustrasi, dan kekecewaan. Mereka memberitahu Anda tentang masa kecil mereka yang tidak bahagia dan keluarga yang tidak berfungsi, seolah-olah hanya mereka satu-satunya yang pernah dihina bahkan sebelum "America's Funniest Home Videos" menjadi acara dunia. Mereka mengeluh tentang orang tua mereka, anak-anak, pekerjaan, atau tetangga sampai ke titik di mana cerita kemalangan mereka itu seperti makanan aneh, yang sulit ditelan.

Akan tetapi, masa-masa yang buruk, harus kita ingat, tidak bisa dihindari: kita semua menghadapi kematian, kita semua mengalami penderitaan, kita semua menghadapi datangnya musim Dance Moms lagi. Anda memiliki dua pilihan: Anda bisa menjadi gila (pernah menonton Dance Moms?) atau Anda bisa merekahkan senyum.

Tidak seperti masa-masa yang buruk, masa-masa yang baik bukanlah perundung yang mendobrak pintu dan menerobos masuk. Akan tetapi, sukacita dan kesenangan, adalah tamu-tamu yang amat baik, dan karenanya, mereka menunggu sebuah undangan. Anda harus membuka pintu untuk momen-momen terbaik dalam hidup; Anda harus mengundang mereka masuk dan menyambutnya saat mereka tiba. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Psychology Today
Alamat URL: https://www.psychologytoday.com/blog/snow-white-doesnt-live-here-anymore/201701/happiness-needs-invitation-misery-barges-in
Judul asli artikel: Happiness Needs an Invitation; Misery Barges In
Penulis artikel: Gina Barreca, Ph.D.
Tanggal akses: 4 April 2017

Tinggalkan Komentar