“Karena jika kamu mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain, Bapa surgawimu juga akan mengampunimu. Akan tetapi, jika kamu tidak mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”
Ada dua penginjil, Tsadiq dan Shilo, yang memanfaatkan penginjilan massal saat musim naik haji di Mekkah dan Madinah, Arab.
Setibanya di lokasi, Tsadiq ke arah pintu barat dan Shilo ke arah pintu timur mencari prospek serta mengabarkan Injil. Pada hari pertama dan kedua, tidak ada orang yang mau mendekat dan mendengarkan berita yang mereka sampaikan.
Pada hari ketiga, Tsadiq dan Shilo mendapat ide cemerlang yang menjadi strategi untuk mengajak orang-orang berkumpul agar berita anugerah keselamatan diwartakan. Masing-masing dari mereka memukul piring kosong untuk menarik perhatian massa sambil berseru "Gratis ... gratis ... gratis." Mendengar kata "gratis", orang-orang dari Indonesia banyak berkumpul dan berkerumun sambil berdesak-desakan mau melihat dan mengambil secara gratis.
Kedua penginjil tersebut dengan tegas mengatakan bahwa: Anugerah keselamatan diberikan secara cuma-cuma atau gratis oleh Yesus Kristus bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Lalu, beberapa orang dalam kerumunan tersebut berteriak dengan berkata, "Saya mau pesan satu." Ada juga yang mau pesan dua.
[Diedit dari: Humor kiriman EUZ Wonga]
“Sebab, oleh anugerah kamu diselamatkan melalui iman dan ini bukan dari dirimu sendiri, tetapi karunia Allah, bukan hasil usahamu, supaya tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri. Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya supaya kita bisa hidup di dalamnya.”
Seorang pria muda sangat mencintai seorang gadis cantik. Suatu hari, gadis itu mengatakan kepadanya bahwa hari berikutnya adalah hari ulang tahunnya. Pria itu pun mengatakan kepada sang gadis bahwa dia akan mengiriminya buket mawar ... satu tangkai untuk setiap tahun hidupnya.
Malam itu, dia menelepon toko bunga setempat dan memesan dua puluh satu tangkai mawar dengan berpesan agar buket bunga itu segera diantarkan keesokan paginya.
Ketika si penjual bunga sedang menyiapkan pesanan pemuda itu, dia memutuskan bahwa karena pemuda itu adalah pelanggan yang baik, dia akan menambahkan selusin mawar lagi di dalam karangan bunga pesanannya.
Pemuda itu tidak pernah tahu apa yang membuat gadis muda itu begitu marah kepadanya.
Saat jam pelajaran, seorang guru bernama Mukidi memberikan pertanyaan matematika yang cukup mudah. Namun, dari satu pertanyaan tersebut, semua murid tidak bisa menjawabnya.
Mukidi: "Murid-murid, saya kasih satu pertanyaan ya. Kalau bisa jawab, bapak beri hadiah."
Semua Murid: "Iya, Pak."
Mukidi: "Pertanyaannya mudah, 9 + 5 berapa?"
Murid 1: "14, Pak."
Mukidi: "Salah."
Murid 2: "95, Pak."
Mukidi: "Salah."
Murid 3: "Nol, Pak."
Mukidi: "Salah juga."
Hampir semua jawaban murid salah, dan akhirnya murid pun kebingungan.
Semua Murid: "Lalu, yang benar jawabannya berapa, Pak?"
Mukidi: "24, anak-anak."
Murid 1: "Kok bisa?"
Mukidi: "Soalnya, bapak tadi lupa naruh angka 1 di depan angka 9."
Profesor Carter berjalan kaki mengunjungi rumah seorang temannya yang terletak di ujung jalan. Setelah makan malam dan bermain catur, dia berpamitan hendak pulang. Namun, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan angin bertiup sangat kencang.
"Jangan pulang dulu, hujan sangat deras dan udara sangat dingin juga. Menginap saja di sini!" cegah temannya.
Sang Profesor segera menyetujui tawaran tersebut, maka temannya itu masuk ke dalam rumah dan menyuruh istrinya menyiapkan tempat tidur.
Ketika dia keluar lagi ke ruang tamu, ternyata Profesor itu sudah tidak ada. Dia dan istrinya mencari-cari ke segala sudut rumah, tetapi tidak menemukan si Profesor.
Tiba-tiba, terdengar orang membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Profesor Carter! Dari mana saja engkau?" seru temannya.
"Ya? Aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambil baju tidurku," jawab si Profesor.
"Ingatlah selalu untuk memberi tumpangan kepada orang-orang asing karena dengan melakukan hal itu, beberapa orang telah menjamu malaikat-malaikat tanpa mereka sadari." —Ibrani 13:2, AYT
Seorang pria kesulitan mengimbau tetangganya agar mengurung ayam-ayam peliharaannya. Tetangganya terus saja mengoceh kalau ayam itu makhluk ciptaan Allah juga. Karena itu, mereka memiliki hak untuk berkeliaran di mana-mana.
Sayangnya, pria itu tidak bisa menjauhkan ayam-ayam tetangganya dari bunga-bunga yang ada di pekarangannya. Dua minggu kemudian, saat aku ke rumahnya, aku melihat bunga-bunga miliknya dalam keadaan baik dan akan merekah.
Jadi, aku bertanya padanya bagaimana ia bisa mengusir ayam-ayam tetangganya.
"Suatu malam," katanya, "aku menyembunyikan selusin telur di bawah semak-semak yang ada di pekaranganku, dan esok harinya, aku sengaja membuat tetanggaku melihatku sedang mengambil telur-telur itu. Setelah itu, ayam-ayamnya tidak pernah berkeliaran di pekaranganku lagi."
Suatu siang, seorang ayah bertanya pada anaknya yang terkenal nakal di sekolahnya. "Bagaimana hari ini, Nak? Apakah kamu masih mengganggu teman-temanmu di kelas?"
"Sama sekali tidak, Ayah. Mana mungkin mengganggu teman kalau disuruh Pak Guru sepanjang hari berdiri menghadap tembok di pojok kelas!"
Doni: “Tinggal duduk di belakang setir, putar kunci kontak, injak pedal kopling, masukkan persneling satu, angkat pedal kopling pelan-pelan, injak gas pelan-pelan, mobil langsung jalan.”
“TUHAN, Allah kita, memerintahkan kami untuk menaati semua ketetapan ini dan takut kepada TUHAN, Allah kami, supaya kita hidup seperti halnya sekarang. Jika kami menaati seluruh hukum dengan setia, tepat seperti yang dikatakan TUHAN, Allah kepada kami, maka itulah kebenaran kami.” —Ulangan 6:24-25, AYT