Roma

Tim i-Humor's picture

MENGHALALKAN DOSA

Setelah selesai selesai kebaktian, disuatu LP, Pendeta Josef berbincang bincang dengan para Narapidana yang ada.

Pendeta : "Badu, kenapa kamu dipenjara?"
Badu : "Mencopet, Pak Pendeta."
Pendeta : "Apakah kamu tidak tahu kalau itu dosa?"
Badu : "Tahu, Pak."
Pendeta : "Kenapa kamu lakukan itu?"
Badu : "Tujuan saya mendidik, Pak"
Pendeta : "Mendidik apa?"
Badu : "Mendidik supaya orang orang berjaga jaga, karena Tuhan akan
    datang seperti pencuri, karena itu saya mendidik supaya orang
    orang selalu berjaga jaga dimanapun berada. Untuk itu,
    barangnya saya copet agar mereka sadar, untuk tetap berjaga
    jaga sampai Tuhan datang. Kasian kan mereka, kalau Tuhan
    datang mereka tertidur?"
Pendeta : "Tetapi, apakah barang yang kamu ambil, kamu kembalikan
    lagi?"
Badu : "Itulah kelalaian saya, Pak."
Pendeta : "Bertobatlah kamu, karena kerajaan surga sudah dekat."
Tim i-Humor's picture

MENUMPUK BARA API

Seorang ibu tersedu-sedan mengadu kepada pendetanya, karena mendapat perlakuan tidak senonoh dari suaminya yang ringan tangan. Percekcokan selalu mewarnai kehidupan keluarga itu.

Maka, pendeta pun bertanya, "Sudahkah Ibu menumpukkan bara api di atas kepalanya?" (Maksud pendeta adalah membalas kejahatan dengan kebaikan/kasih seperti dalam Roma 12:20).

Tetapi, rupanya ibu itu salah paham. Maka dengan antusias dan spontanitas sambil mengusap air mata ibu itu berkata, "Kalau bara api sih belum pernah, tapi kalau kopi panas, sering ...."

Tim i-Humor's picture

TAKUT DIPECAT

Tim i-Humor's picture

TIDAK TAHU APA-APA

Seorang bapak baru pertama kali mengunjungi rumah sakit untuk mengoperasikan anaknya. Bapak itu pun memperhatikan setiap gerak-gerik dokternya lalu bertanya, "Apa itu?"

Dokter menjelaskan, "Ini adalah suntikan bius. Setelah kami menyuntiknya, anak bapak tidak akan mengetahui apa-apa lagi."

"Kalo gitu nggak usah disuntik saja, dok," kata sang bapak. "Anak saya ini sudah dari dulu juga tidak tahu apa-apa."

Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. (Roma 14:10)

Tim i-Humor's picture

PENELITI

Wesley dan Tennat, dua orang peneliti yang bekerja pada pusat penelitian di Afrika untuk PBB mengalami nasib malang. Mereka ditangkap oleh penduduk suku setempat lalu dimasukkan dalam sebuah panci besar yang diletakkan di atas api yang sedang berkobar. Tiba- tiba Tennat tertawa terbahak-bahak tanpa sebab.

"Ada apa?," tanya temannya, "Kita sedang direbus hidup-hidup, dan sebentar lagi akan menjadi santapan mereka. Saya tidak melihat sesuatu yang lucu disini."

Tennat masih terus dengan tawanya. "Mereka tidak tahu, bahwa saya buang air di dalam sup ini."

Tim i-Humor's picture

RATAPAN ANAK TIRI

Ada sebuah cerita tentang seorang wanita yang diceraikan suaminya dan ia dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 12 tahun. Kemudian ia menikah lagi dengan laki-laki lain setelah satu tahun hidup tanpa suami.

Bekas suaminya agak cemas tentang keadaan anaknya. Di suatu kunjungan akhir pekan, bekas suami ini bertanya kepadanya anaknya, "Bagaimana hubunganmu dengan ayah tirimu? baik?"

"Luar biasa!," jawab anaknya, "Dia membawa saya berenang setiap pagi, kami pergi ke sebuah danau. Dia mengayuhkan saya ke tengah danau dan saya berenang kembali ke tepi danau."

Tim i-Humor's picture

TAKTIK KERETA GRATIS

Di stasiun kereta Jatinegara ada 2 orang Inggris dan 2 orang Yahudi sedang antre tiket ke Bandung. Si Inggris memperhatikan si Yahudi membeli tiket, mereka heran karena si Yahudi itu hanya membeli 1 tiket. Lalu saat mereka naik ke dalam kereta, ternyata duduknya berdekatan. Setelah kereta jalan dan petugas datang untuk memeriksa tiket, kedua Yahudi itu bergegas masuk ke dalam toilet. Saat petugas menggedor pintu toilet untuk memeriksa tiket, pintu dibuka dan tampak tangan yang menjulurkan tiket kereta. " Oh, begitu rupanya cara untuk mengakali tiket kereta, " pikir si Inggris.

Tim i-Humor's picture

HAKIM

Seorang pencuri yang baru saja tertangkap basah sedang berusaha membobol rumah seorang warga nyaris dipukuli habis-habisan oleh penduduk sekitar. Untung saja seorang pendeta yang sangat berpengaruh di desa itu lewat.

(1)

Pendeta : "Haii ... stooopp .... !! Ada apa ini ???"
Penduduk : "Ini lho Pak Pendeta, orang ini ketahuan mau membobol rumah Ibu Ratri!"
Penduduk (2) : "Iya Pak, dia harus dikasih pelajaran supaya kuapookkk!!"
Pendeta : "Yaaaa ... tapi mbok diselesaikan dengan cara damai dan kekeluargaan gitu lhoo ... jangan main hakim sendiri."
Penduduk (3) : "Lhoooo ... siapa yang bilang kita main hakim sendiri Pak Pendeta? Lha wong kita main hakimnya rame-rame kok ...."

Tinggalkan Komentar