TENAR KALI AWAK INI, BAH...!

Tim i-Humor's picture

Seorang kawan dari Tapanuli kaget setengah senang ketika pertama kali tiba di Bandung. Ia yang merasa tidak punya kenalan di kota itu, ternyata dikenal oleh tukang becak yang dijumpainya di Stasiun Kebon Kawung.

"Bade ke mana, Den?"

"Bah," serunya. "Ke Tamansari dekat Belubur, berapa duit?"

"Tujuh ratus lima puluh, Den."

"Ayolah" katanya tanpa menawar.

Dalam hati ia terus bertanya-tanya, dari mana si abang becak itu tahu namaku. Saking gembiranya ia terus naik tanpa menawar lagi, karena di Tapanuli tidak ada tawar-menawar ongkos.

Sesampainya di Tamansari, dekat Balubur itu, ia turun dari becak dan bertanya kepada seorang bapak tentang alamat yang dicarinya.

"Ooo, di sebelah sana, Den" jawab bapak itu.

"Bah!" serunya lagi. "Bapak ini tahu nama awak pula. Tenar kali awak ini, Bah!"

Kemudian seorang pengemis mengampirinya dan berkata, "Den kasihan, Den . . . minta duit, Den . . ." Terbelalaklah mata kawan kita ini.

"Bah, bukan main awak ini. Dari tukang becak, bapak-bapak sampai pengemis pun kenal nama awak!"

Rupanya teman kita dari Tapanuli ini tidak tahu bahwa orang Sunda selalu menghormati orang lain dengan sebutan den atau aden (raden). Sedangkan teman kita dari Tapanuli ini bernama Maraden.

Ada banyak--entah berapa banyak--macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (1 Korintus 14:10-11)

Sumber: MST book.

Tinggalkan Komentar