SINGKONG REBUS

Tim i-Humor's picture

Dalam praktek pelayanan di rumah jemaat, seperti biasanya ketika sore menjelang malam tuan rumah menjamu mahasiswa teologia yang praktek tersebut dengan kopi berikut singkong rebus ditabur kelapa.
"Silakan Nak ... tinggal satu, habiskan sekalian ... ayo ...!" ajak tuan rumah.
"Terima kasih. Untuk Bapak sajalah, saya sudak makan tiga buah kok."
"Waduh ... jangan malu-malu, Nak."
Namun sampai larut malam, ketika hendak tidur, sisa satu singkong rebus itu tidak jadi dimakan, baik oleh tuan rumah maupun si mahasiswa.
Dan, singkong rebus yang bertabur kelapa parut itu ditaruh di meja makan yang terletak di dekat kamar tidur mahasiswa teologia.
Sebenarnya, baik si mahasiswa maupun si tuan rumah sejak tadi sama-sama mengincar singkong itu dan ingin memakannya, tapi karena sungkan maka kedua-duanya sama-sama ´mengala´. Lewat tengah malam, mulailah si tuan rumah merasa lapar. Ia langsung teringat dengan singkong di meja makan itu. Dengan langkah perlahan-lahan ia menuju meja makan. Saat itu suasananya gelap, karena lampunya dimatikan.
"Ach harus perlahan-lahan, malu sama adik mahasiswa ... jadi lampu enggak usah dinyalakan saja ... he ... he ... he," bisik si tuan rumah dalam hatinya.
Ketika tangannya hendak mengambil singkong tersebut ia langsung kaget karena ada tangan lain yang juga ingin mengambilnya. Buru-buru lampu dinyalakan, dan ternyata tangan lain itu adalah tangan si mahasiswa teologia.

"Wah maaf, Nak. Silakan ambil. Saya hanya mau membersihkan saja kok!"
"Enggak apa-apa, buat Bapak saja, karena memang saya sudah kenyang. Sebenarnya saya cuma senang dengan kelapanya saja kok ... gurih ..." sahut si mahasiswa.
Lalu, keduanya tertunduk malu.

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. (Roma 12:9)

Sumber: Tersenyum sukacita p.38.

Tinggalkan Komentar