Pembelajaran Alkitab Mengenai Sukacita: Tujuh Hal yang Perlu Anda Pahami

Kata 'sukacita' didefinisikan oleh Meriam-Webster sebagai, "emosi yang ditimbulkan oleh perilaku yang baik, kesuksesan, atau nasib yang mujur atau disebabkan oleh adanya kemungkinan untuk memiliki sesuatu yang diinginkan...ekspresi atau sikap yang menunjukkan emosi tersebut...sebuah kondisi dari kebahagiaan seseorang". Mari kita lihat pemahaman yang Alkitabiah tentang "sukacita".

Sukacita Dunia itu Semu dan Tidak Bertahan Lama

Sukacita yang ditawarkan oleh dunia hanyalah tiruan belaka dari sukacita sejati yang diberikan oleh Allah sendiri. Sukacita yang dirasakan oleh orang-orang yang belum diselamatkan adalah kebahagiaan yang bisa datang dan pergi, tergantung situasi orang yang bersangkutan pada waktu itu. Jika semua berjalan lancar sesuai rencana, sukacita pun datang. Ketika semuanya menjadi sulit, tidak ada sukacita. Di dalam kitab Ayub, salah satu temannya sempat berkata sesuatu yang memberkati: "bahwa sorak kegirangan orang fasik itu sebentar saja, dan sukacita orang munafik itu hanya sesaat??" (Ayub 20:5, AYT). Tidak akan ada sukacita sejati yang terpisah dari Allah.

Dalam Kitab Perjanjian Lama, Sukacita Dihubungkan dengan Penyembahan yang Benar kepada Allah.

Dalam Perjanjian Lama, sukacita adalah aspek utama dari penyembahan yang benar kepada Allah. Di mana pun orang mengenal, mengasihi, dan menyembah Allah, cinta kasih-Nya menanamkan sebuah kebahagiaan yang hanya bisa dianugerahi oleh Dia saja, ke dalam hati para penyembahnya. (1 Tawarikh 15:16; Ezra 3: 12, 6: 16; Amsal 16:11, 32: 11, 51:12, AYT, dan masih banyak lagi.)

Pada masa Raja Hizkia, orang-orang Israel kembali mendedikasikan diri mereka kepada Allah seperti yang kita baca, "Ada sukacita besar di Yerusalem karena sejak masa Salomo, anak Daud, raja Israel, peristiwa seperti itu belum pernah terjadi di Yerusalem." (2 Tawarikh 30: 26, AYT). Orang-orang memperbaharui komitmen mereka kepada Allah sehingga menyalakan lagi sukacita yang hanya mampu dihasilkan oleh Dia saja. Orang-orang percaya zaman sekarang tetap dapat mengalami sukacita yang sama ini saat mereka mendedikasikan hidupnya kepada Yesus.

Sukacita Merupakan Anugerah dari Allah

Sukacita adalah salah satu dari buah-buah Roh, yang tinggal di dalam hati setiap orang yang percaya, " Akan tetapi, buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, keramahan, kebaikan, kesetiaan .... " (Galatia 5:22, AYT). Karena Allah adalah pencipta dari semua hal baik ini, ketika ada seseorang yang menjadi Kristen, dan bersatu dengan Allah melalui iman dalam Yesus, Roh Kudus menanamkan kualitas-kualitas tersebut ke dalam diri orang tersebut. Sukacita adalah bagian yang tak terpisahkan dari Kerajaan Allah dan akan terus bertahan kapan pun orang-orang percaya hadir, "Sebab Kerajaan Allah bukanlah tentang makan dan minum, tetapi tentang kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus." (Roma 14:17, AYT)."

Melakukan Kehendak Allah Meningkatkan Kadar Sukacita Kita

Sebagaimana banyak orang Kristen dapat membuktikan, bahwa tergabung dalam tindakan perkabaran Injil membawa sukacita dalam hati mereka. Secara pribadi, ketika saya menyaksikan sesorang memutuskan untuk mengikut Yesus atau ketika saya tahu bahwa seseorang telah menemukan kebenaran dalam Firman Allah, yang akan mendorongnya dalam jalan iman, saya hanya dapat merasakan sukacita. Rasul Paulus juga sering mengalami hal yang sama di dalam pelayanannya (2 Korintus 1:24, 2:3; Filipi 1:4; 1 Tesalonika 2:19, 20, 3;9; 2 Timotius 1:4; Filemon 1:7; dan pasal-pasal yang lain). Penulis dari Tiga Yohanes mengalami sukacita penginjilan, "Aku tidak memiliki sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku berjalan dalam kebenaran." (3 Yohanes 1:4, AYT).

Keadaan Apa pun Tidak Akan Dapat Merampas Sukacita Kita

Di dalam 2 Korintus 6:10, Paulus berkata bahwa orang-orang Kristen dapat menjadi "seperti yang berdukacita, tetapi selalu bersukacita,". Hal ini berarti bahwa, meskipun kita sedang berada dalam situasi yang secara sah membawa rasa duka, sukacita dalam hati kita tidak akan pernah diambil. Inti dari sukacita kita adalah fakta bahwa kita sebagai anak-anak Allah yang sudah diampuni, yang menikmati hubungan intim dengan Sang Pencipta semesta alam. Sukacita kita dikuatkan ketika kita mengingat hal tersebut, apa pun kondisinya, Allah senantiasa beserta kita dan Dia berada di atas segalanya.

Kita dapat melihat hal ini dalam surat-surat dari penulis Alkitab Perjanjian Baru:

Yakobus berkata bahwa, "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu sukacita jika kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Sebab, kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu menghasilkan ketabahan (Yakobus 1:2-3, AYT)."

Sekali lagi, kita membaca sebuah kegigihan yang menginspirasi dari rasul Paulus saat dia sedang menghadapi kesulitan yang luar biasa, "Sekalipun aku harus dicurahkan seperti cawan persembahan di atas kurban dan pelayanan imanmu, aku bergembira dan bersukacita dengan kamu semua. Demikian juga kamu, dengan alasan yang sama, bergembira dan bersukacitalah bersama-sama denganku." (Filipi 2:17-18, AYT).

Rasul Petrus mendorong kita dengan, "Namun, bersukacitalah karena kamu ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus sehingga kamu juga dapat bersukacita dan bergembira pada saat kemuliaan-Nya dinyatakan (1 Petrus 4:13, AYT)."

Satu-satunya yang Dapat Mencuri Sukacita Anda Adalah Dosa.

Sukacita surgawi merupakan hal yang luar biasa; hal itu adalah karunia supernatural yang Allah anugerahkan kepada orang-orang percaya. Akan tetapi, satu peringatan harus menjadi perhatian. Dosa dapat mencuri sukacita kita. Sulit untuk mengalami sukacita dari hubungan kita dengan Allah, ketika kita sudah melakukan sesuatu yang merusak hubungan tersebut. Sukacita adalah hadiah dari Roh Kudus; ketika kita mendukakan Roh Kudus dengan dosa kita, kita mengganggu jalur sukacita (di antara hal-hal yang lain) dari Allah. Jika kita pernah merasa kurang sukacita dan semakin kurang lagi, kita mungkin perlu untuk mengevaluasi kembali hubungan kita dengan Yesus Kristus, untuk memastikan bahwa kita hidup sesuai sebagaimana seharusnya.

Orang-orang Kristen Harus "Bersukacita Selalu"

Meriam-Webster mendefinisikan "bersukacita" sebagai berikut, 'untuk merasakan sukacita atau kesukaan yang besar'. Ada beberapa pasal dalam Perjanjian Baru di mana Paulus menganjurkan kita untuk 'bersukacita". Pasal-pasal tersebut membawa kesan mendesak atau sebuah perintah, seperti ketika Paulus berkata bahwa orang-orang Kristen harus penuh dengan sukacita, dan dia mendorong para orang percaya untuk memastikan hubungan mereka dengan Allah, adalah hubungan yang membawa sukacita. (Filipi 3:1, 4:4, AYT).

Paulus menulis dalam 1 Tesalonika 5:16-18 (AYT), "Bersukacitalah selalu! Teruslah berdoa! Mengucap syukurlah dalam segala hal. Sebab, itulah kehendak Allah bagimu di dalam Kristus Yesus." Sukacita, doa, dan ucapan syukur tersebut haruslah menjadi karakteristik dari orang-orang Kristen. Hal itu adalah kehendak Allah bagi orang percaya (ayat 18); ini adalah bagaimana Allah menginginkan kita untuk hidup. "Bersukacita senantiasa" bukan berarti kita harus menunjukkan senyum palsu di wajah kita, apa pun yang terjadi dengan kehidupan kita atau kehidupan orang-orang yang kita sayangi. Hal itu berarti kita harus tetap teguh dalam pengertian kita bahwa Allah adalah sumber damai sejahtera dan kekuatan, dalam apa pun situasi hidup kita. Jika hubungan kita dengan Allah sudah benar, dan kita mengakui dan memohon pengampunan atas dosa-dosa yang kita sadari, kita akan dapat mengalami sukacita supernatural ini selamanya ... baik dalam waktu-waktu yang baik maupun buruk. (t/Nikos)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : What Christians Want To Know
Alamat situs : http://www.whatchristianswanttoknow.com/bible-study-on-joy-7-things-you-need-to-know/
Judul asli artikel : Bible Study on Joy: 7 Things You Need To Know
Penulis artikel : Robert Driskell
Tanggal akses : 6 Januari 2017

Tinggalkan Komentar