OPA DAN CUCU

Tim i-Humor's picture

Opa Lansia terhitung pengunjung setia ke kebaktian gereja. Ia selalu datang dengan didampingi oleh cucunya yang berusia sekitar 5 tahun. Tetapi ada satu kebiasan buruk sang Opa, yaitu manakala pendeta mulai berkotbah, Opa pun tertidur lelap. Bukan cuma itu Opa juga suka ngorok, suara ngoroknya pun keras, sehingga sungguh-sungguh mengganggu konsentrasi pak Pendeta dan kekhusyukan suasana kebaktian.

Suatu ketika di ruang konsistori diadakanlah rapat darurat untuk menanggulangi gangguan Opa Lansia tersebut. Usul seorang penatua diterima, yaitu memanggil si cucu dan memberinya uang seribu rupiah apabila ia bersedia mencubit Opa tatkala ia mengorok.

Jalan keluar tersebut ternyata sangat manjur. Sebab, pada saat Opa mengorok, dicubitlah pahanya oleh sang cucu. Dengan demikian tenanglah suasana kebaktian. Hal itu berlangsung selama beberapa minggu berturut-turut. Untuk jasanya itu si cucu selalu mendapat seribu rupiah dari Majelis Jemaat. Semua merasa senang, kecuali sang Opa, tentunya.

Tetapi ... pada suatu hari minggu, suara ngorok Opa Lansia pun berkumandang kembali. Tentu pendeta serta para anggota Majelis lainnya marah dan bingung. Maka, dipanggillah si cucu ke ruang konsistori, seraya ditanya mengapa Opa kok suka ngorok lagi? Jawab sang cucu dengan lugu: "Opa kasih saya dua ribu rupiah untuk tidak mencubitnya!"

Dikirim oleh: Abednego .

Tinggalkan Komentar