MENYISIPKAN HUMOR DALAM KHOTBAH

Tim i-Humor's picture

Ken Davis, pengarang, pembicara, sekaligus komedian Kristen menyampaikan tiga unsur yang membuat sesuatu hal lucu yaitu kebenaran, melebih-lebihkan, dan kejutan. Cerita harus mengandung kenyataan yang dipahami oleh pembaca sebagai suatu kebenaran. Cerita juga harus dilebih-lebihkan supaya menarik. Terakhir, cerita harus memunyai unsur kejutan sebagai kekuatan utama.

Haddon Robinson, profesor pengkhotbah di Gordon-Conwell Theological Seminary, berkata, "Karena khotbah berhubungan dengan kehidupan, maka khotbah harus memunyai beberapa unsur humor. Kita harus memandang hidup sebagaimana yang kita jalani dan secara bersamaan melihat betapa konyolnya kehidupan itu.

Perhatikan beberapa metafora dan pernyataan Yesus sehingga segera terlihat bahwa Yesus tidak melarang pemakaian unsur humor untuk menjelaskan sesuatu. Ken Davis memberi contoh perkataan Yesus yang tertulis dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas bahwa "Lebih mudah bagi seekor unta untuk masuk ke lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke kerajaan Allah." Davis menertawakan upaya untuk menjelaskan "lubang jarum" sebagai pintu gerbang kota, di mana seekor unta harus merunduk dan berlutut agar bisa masuk; atau penjelasan lain bahwa istilah unta sebenarnya berarti "tali yang besar." Penafsiran seperti itu bertentangan dengan inti yang dimaksud Yesus. Yesus menyampaikan penggambaran dengan gamblang sehingga terdengar lucu, sehingga topik penebusan adalah hal serius.

Yesus juga memakai hiperbola untuk melebih-lebihkan. Elton Trueblood terilhami untuk menulis buku "The Humour of Christ" ketika dia membaca perkataan Yesus tentang selumbar dan balok di mata orang-orang dan ilustrasi itu membuat putranya yang berumur empat tahun tertawa terbahak-bahak. Yesus menceritakan kisah yang menimbulkan kejutan. Ketika orang Samaria berhenti untuk menolong seorang yang sekarat, setelah dua orang religius melewatinya, itulah kejutan. Penelitian kecil tentang hubungan orang Yahudi dan Samaria di saat itu betapa tidak masuk akalnya hal itu bagi para pendengar. Yesus mengatakan kebenaran di balik senyuman. Ilustrasi Yesus tentang orang-orang yang "menapis nyamuk dan menelan unta" (Matius 23:24) juga sama menariknya.

John Stott menulis, "Tampaknya disepakati secara umum bahwa humor adalah salah satu senjata dalam pengajaran Sang Guru." Jika hal ini diterima, maka pertanyaan apakah kita sebaiknya menggunakan humor terjawab. Barangkali, pertanyaan selanjutnya adalah: "Humor macam apa yang tidak boleh ditampilkan dalam khotbah?"

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemakaian humor dalam khotbah:

  1. Hindari suatu lelucon. Ada perbedaan antara humor dan lelucon. Humor menimbulkan kegirangan suci yang merupakan kebajikan, sedangkan lelucon umum menimbulkan keburukan. Lelucon menimbulkan komentar dangkal yang tidak cocok disampaikan dalam khotbah dan membelokkan tujuan utama. Haddon Robinson menganggap bahwa "humor lebih sering disalahgunakan dalam khotbah alih-alih digunakan secara tepat karena lelucon hanya disampaikan begitu saja."

  2. Humor yang terlalu banyak akan kontraproduktif. John Ortberg, pengarang dan pendeta pengajar di Menlo Park Presbyterian Church, pernah merasa bahwa humor sudah terlalu penting baginya. Menceritakan kisah lucu menjadi bagian yang bisa ditebak dari setiap khotbahnya. Dia menggunakannya untuk bersantai sejenak saat berbicara dan memastikan bahwa hadirin masih mendengarkannya. Meskipun humornya tepat dan bermanfaat, Ortberg merasa dia terlalu tergantung kepada humor. Untuk melawannya, dia membiasakan diri untuk berkhotbah berturut-turut beberapa kali dengan sedikit humor. Haddon menyarankan jika kita sadar bahwa penyajian humor tidak bermanfaat untuk menyampaikan kebenaran firman, kita perlu menahan diri untuk tidak menyampaikannya.

  3. Humor tidak tepat harus dihindari. Beberapa topik harus dihindari dalam melontarkan humor seperti cerita yang menertawakan berat badan, suku bangsa, usia, pandangan politik, atau kelemahan fisik seseorang sebaiknya dihindari. Perkataan kotor, kosong, dan sembrono, seperti tertulis dalam Efesus 5:4, tidak dapat diterima.

  4. Hal-hal yang suci tidak boleh disebutkan dalam konteks humor tanpa pertimbangan matang. Sakramen baptis dan perjamuan suci hampir pasti sebaiknya dihindari sebagai topik humor. Haddon Robinson mencatat "hal-hal yang paling lucu terjadi saat kita mencoba menjadi sangat serius." Sebelum menyampaikan berbagai hal tersebut dari atas mimbar, Anda harus memastikan "tidak menganggap enteng hal-hal yang dianggap serius oleh Allah."

  5. Beberapa humor yang merujuk Allah bisa diterima. Misalnya humor yang disampaikan oleh Ken Davis: seorang pencuri masuk ke rumah dan mendengar suara di kegelapan, "Aku melihatmu, dan Yesus juga melihatmu." Setelah tahu bahwa suara itu berasal dari seekor burung beo, diam-diam pencuri itu mendatanginya dan melihat seekor anjing galak di samping burung itu. Lalu si beo berkata, "Kenalkan, ini Yesus." Davis mengambil risiko di sini, namun cerita itu secara efektif menjelaskan bahwa demikianlah manusia memandang Allah yang ganas dan siap menyerang orang yang berniat berbuat jahat.

  6. Berhati-hatilah dalam mengungkapkan suatu hal secara jenaka. Pengarang dan pembicara, Fred Smith, memakai pepatah lama sebagai petunjuk: "Ketika para pendengar tertawa, para malaikat menangis." Smith menguji humor dengan pertanyaan, "Apakah para malaikat juga tertawa mendengarnya?"

Dengan memerhatikan hal-hal di atas, pengkhotbah dapat merasa yakin bahwa humor dapat memunyai peran penting dalam sebuah khotbah. Phillips Brooks dalam "Lectures on Preaching" menyebut humor sebagai "salah satu keuntungan yang bisa dimiliki pengkhotbah." Sedangkan John Stott mengatakan, "Kita harus menekankan humor dengan gembira saat kebaktian jika itu bermanfaat bagi pewartaan Injil." Pengkhotbah harus bergumul apakah humor yang akan disampaikan sesuai dengan topik, waktu, dan tujuan khotbah. (t/dicky)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Nama situs : www.preachingtodaysermons.com
Alamat URL : http://www.preachingtodaysermons.com/
Judul asli artikel : Why Serious Preachers Use Humor (Part 1)
Nama penulis : John Henry Beukema
Tanggal akses : 23 Juni 2011

Tinggalkan Komentar