HAI!

Tim i-Humor's picture

Saat itu hari Minggu, bertepatan dengan hari Natal. Keluarga kami menghabiskan masa liburan di San Fransisco bersama orangtua suami saya. Namun supaya dapat masuk kerja pada hari Senin, kami harus pulang ke Los Angeles pada hari Natal itu dan menempuh jarak kurang lebih 650 km.

Kami berhenti untuk makan siang di rumah makan King City yang hampir kosong. Kami satu-satunya keluarga yang makan di sana dan anak-anak yang ada di situ hanyalah anak-anak kami. Saya mendengar Erik, anak saya yang berusia satu tahun, memekik kegirangan: "Hai! Hai!" Ia memukul-mukul dengan tangan mungilnya yang gemuk dan lucu pada kursi makan anak. Wajahnya tampak begitu gembira, matanya berbinar-binar, mulutnya tersenyum lebar sehingga gusinya yang tanpa gigi itu kelihatan. Ia menggeliat, mengoceh, dan tertawa-tawa gembira. Tatkala saya melihat apa yang menjadi sumber kegembiraannya ... saya tak dapat langsung mempercayai apa yang saya lihat.

Di dekat kami berdiri seorang gelandangan tua yang mengenakan mantel tua yang pasti sudah lama sekali diberikan kepadanya oleh seseorang -- kotor, berminyak, dan kumal ... dengan celana yang kedodoran untuk tubuhnya yang kurus dan kecil. Ibu jari kakinya menyembul dari alas kaki yang tidak layak disebut sepatu ... warna kemejanya sudah tidak karuan, dan wajahnya tidak seperti kebanyakan orang ... dengan gusi ompong seperti Erik.

"Hai, sayang; hai, anak manis. Apa kabar, teman?" sapanya kepada Erik.

Suami saya dan saya saling pandang dengan ekspresi yang mengungkapkan antara "Apa yang harus kita lakukan?" dan "Orang ini meyeramkan."

Makanan kami datang, dan suara-suara itu terus berlanjut. Kini gelandangan tua itu berseru dari seberang ruangan: "Kamu bisa tepuk tangan? Oh sayang ... kamu bisa cilukba? Hei, lihatlah ia bisa cilukba!"

Erik terus saja tertawa dan menjawab, "Hai." Setiap kali dipanggil, Erik selalu memberi respon. Namun tak seorangpun merasa itu lucu.
Pria itu seorang pemabuk dan pengganggu. Saya merasa malu. Suami saya, Dennis, merasa sangat terhina. Bahkan anak saya yang berusia enam tahun mengatakan,"Mengapa orang itu berbicara keras sekali?"

Dennis ke kasir untuk membayar, dan menyuruh saya membawa Erik dan menunggu di tempat parkir. "Tuhan, tolonglah saya agar dapat keluar dari sini sebelum orang itu berbicara kepada saya atau Erik! Saya berjalan cepat-cepat menuju pintu keluar.

Namun tampaknya Tuhan dan Erik mempunyai rencana lain. Saat semakin dekat dengan pria itu, saya membelakanginya, berusaha menyingkir darinya, dan dari napas yang keluar dari mulutnya. Tapi justru saat itulah Erik, dengan mata yang terpaku pada teman barunya itu, mencondongkan tubuh minta digendong.

Ketika saya berusaha mempertahankan kestabilan tubuh bayi saya dalam gendongan, saya bertatapan dengan mata orang tua itu. Sekonyong- konyong Erik mengulurkan dan membuka tangannya lebar-lebar ke arah orang itu, minta digendong.

Mata gelandangan itu seolah ingin bertanya sekaligus memohon, "Bolehkah saya menggendong bayi Anda?"

Saya tak perlu menjawab karena Erik sudah mencondongkan tubuhnya ke lengan orang itu. Tiba-tiba terjalinlah hubungan kasih antara seorang pria yang sangat tua dengan seorang anak yang masih sangat kecil. Erik menyandarkan kepalanya yang mungil pada bahu orang yang berpakaian compang-comping itu. Mata orang itu terpejam, dan saya melihat airmata mengembang di matanya. Tangannya tua dan kotor akibat kerja keras, dengan lemah lembut menimang-nimang bayi saya dan menepuk-nepuk punggungnya.

Saya terperangah. Sejenak pria tua itu mengayun-ayun Erik, lalu memandang tepat ke mata saya. Ia berbicara dengan suara tegas seolah memerintah, "Jagalah bayi ini."

Dengan susah payah akhirnya saya berhasil menjawab, "Saya akan menjaganya," seolah ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan saya.

Ia menjauhkan tubuh Erik dari dadanya dengan berat hati seolah dengan kepedihan yang amat sangat.

Saya membuka lengan lebar-lebar untuk menerima kembali bayi saya. Lalu pria itu berbicara lagi kepada saya.

"Allah memberkati Anda, Bu. Anda telah memberi saya hadiah Natal."

Saya tidak dapat berkata apa-apa kecuali ucapan terima kasih yang saya sampaikan dengan tidak begitu jelas.

Begitu Erik berada dalam gendongan saya, segera saya lari ke mobil. Dennis heran melihat saya menangis sambil menggendong Erik dan berkata, "Allahku, Allahku, ampunilah saya."

~ Nancy Dahlberg ~

Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik. (Yakobus 2:8)

Sumber: Embun Bagi Jiwa Anda - Yayasan Gloria, p.29.

Tinggalkan Komentar